Senin, 19 Agustus 2013

Tentang cinta dan serpihan rindu ku.

     Ketika cinta mulai datang. Membawa berjuta kenangan, beribu buaian. Ketika cinta mulai mencari alasan, membuka jendela hati getarkan kalbu. Timbulkan rindu yang siap menyerbu dinding dan bilik jantung itu.

     "Cinta ku untuk-mu, cinta-mu untuknya."
     "Hatiku terbang bersama-mu, hati-mu masih bersamanya."

     Sungguh ironis kisah ini. 3 insan berada dalam permainan cinta tak terbalaskan, tak bernyawa, dan penuh nista. Tak menyesal ku mengenalmu.

     Mungkin memang benar, "Cinta tak harus memiliki, tak saling menatap, namun tetap merindu.". Tetapi, haruskah itu terjadi padaku?. Haruskah itu terjadi, disaat aku mulai mengenal cinta, dan cinta itu timbul karena keberadaan-mu?.

     "Aku mencintai mu, dan kamu mencintainya."

     Apa yang harus ku lakukan?. Tetap diam bersama cinta nista ini, atau terbang meninggalkan beribu penyesalan serta berjuta kenangan?. Mungkin aku harus pergi, agar aku mampu melupakan rasa cinta ku ini. Aku akan pergi, walau kau tak memintanya. Aku akan pergi membawa serpihan rindu yang tak kunjung padam di telan rasa benci akan cinta ku ini.

     Semoga dirimu bahagia bersama pilihan hati-mu. Doa ku kan terus mengiringi langkah-mu. Aku tak ingin melupakan dirimu, aku hanya akan melupakan rasa cinta ku pada mu. Karena ku tahu, cinta ku pada-mu tak kan pernah terbalaskan.  

Aku mencintai mu.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Gejolak cinta dalam teriknya mentari 17 Agustus 2013.

     "Tujuh belas agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya Bangsa Indonesia. MERDEKA!", terdengar lagu "Hari Merdeka" bersorak dalam semarak 17 Agustus.

     Urutan ke-enam dalam barisan, ya, itu tempat dimana aku berbaris. Pagi tadi, aku mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati HARI PROKLAMASI RI KE-68. Tak ku pungkiri, Tanah air ku Indonesia ini sudah memasuki batang usia ke-68. Semoga Indonesia semakin maju dan berjaya selalu. Aku cinta tanah air ku, Indonesia.

     Teriknya mentari di upuk Timur, telah menyengat pori-pori kulit ku, keringat bercucuran membasahi tubuh ku. Namun, semangat ku tak patah sedikit-pun di pagi itu. Sunyi, sepi, tak bersuara sedikit-pun, itu-lah saat detik-detik proklamasi dibacakan oleh Inspektur Upacara. Kini, pasukan PASKIBRA telah siap tuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

     "Benderaaaa Siap!"
   
     "Kepada, Sang Saka Merah Putih. Hormat Senjataaaaaaa, gerak!"

     "Indonesia, tanah air ku, tanah tumpah darah ku. Disana-lah aku berdiri, jadi pandu ibu-ku. Indonesia kebangsaan-ku, bangsa dan tanah air ku, marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku, hiduplah negri-ku, bangsa-ku, rakyat-ku, semuanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya, merdeka...merdeka, tanah-ku, negri-ku, yang ku cinta. Indonesia Raya, merdeka...merdeka. Hiduplah, Indonesia Raya. Indonesia Raya, merdeka...merdeka, tanah-ku, negri-ku, yang ku cinta. Indonesia Raya, merdeka...merdeka. Hiduplah, Indonesia Raya.", lagu Indonesia Raya berkumandang dalam hikmatnya Upacara Bendera.

     "Tegak senjataaaaaaa, gerak!"

     Ketika tegak senjata telah dilaksanakan, ku turunkan tangan-ku dan kembali bersikap tegak berdiri dengan tatapan lurus ke depan. Mata ku sontak melirik ke-tiga kanan barisan dimana aku berdiam. Jantung seketika berhenti berdetak, nafas terasa berhenti berhembus. Wajah yang rupawan, berkulit coklat, berambut hitam yang memerah, mampu membuatku serasa melayang menembus atmosfer dalam bumi.

     "Sungguh tampanya dirimu.", hati kecil-ku berbisik.

     Lelaki itu, teman ku satu sekolah. Dia sangat menarik dan sangat sulit ku tarik. Berkali-kali ku mencoba memikat hatinya, namun, "GAGAL". Sering kali ku mencoba tuk memberikan "KODE" padanya, hal hasil? tetap "GAGAL". Dia sangat sulit tuk ku taklukan. Mungkin, Dewi Cinta belum memberikan ku jalan tuk mendapatkan hatinya. Yasudahlah, apa boleh buat, biarkan waktu yang akan menjawabnya.

    Sengatan mentari semakin menggebu-gebu, tak tahan ku berada di dalamnya. Suasana itu kembali lagi Tuhan ciptakan. Kini, mata ku dan matanya saling menatap. Sungguh indah bola matanya memandang, senyum manisnya mampu membuat hati ku meleleh bagaikan lilin yang lama dihidupkan. Waktu serasa berhenti untuk ku, dunia serasa hanya milik kita berdua.

    "Oh Tuhaaaan..... Sungguh indah ciptaan-mu. Andai ku dapaaaaaat...", ku hentikan sejenak bisikan hati kecil-ku dan berhenti menatapnya.
     "Ahh, bodohnya aku. Aku tak mungkin memilikinya. Dia terlalu indah untuk-ku.", hati kecil-ku kembali berbisik.

     Iya, aku memang lama mengaguminya. Sudah satu tahun lamanya, dan satu tahun pula, aku memendam rasa cinta ini. Aku tak berani mengungkapkan-nya, sangat sulit ku lakukan itu. Satu alasan, mengapa aku takut memberitahunya tentang rasa ini,
     "Aku takut, disaat aku telah mengungkapkan-nya, kau pergi entah kemana. Menghilang dari kehidupan-ku dan mungkin siap tuk menjauhi-ku."

     Aku selalu memohon pada tuhan,
     "Jika memang benar, dia adalah pemuda yang kau kirimkan untuk hamba-mu ini, dekatkan-lah hamba-mu dengannya. Tetapi, jika rasa cinta ini, hanyalah rasa yang singgah untuk membuat hati-ku tersayat dan terluka. Tolong, kuatkan batin hamba mengahadapi semua itu. Dan, bantulah hamba-mu membuang jauh perasaan cinta ini."

     Waktu telah menunjukan pukul 09.15, upacara telah usai dilaksanakan. Tiap pasukan-pun dipersilahkan meninggalkan lapangan tempat upacara. Dan itu artinya, aku kembali pulang dengan membawa sedikit kebahagiaan di pagi ini. Ku ucapkan sampai bertemu kepada sahabat-sahabat ku dan kembali melihat-nya dengan senyum manis kecil, untuknya.

     DIRGAHAYU  INDONESIAKU Ke-68. Sampai bertemu di Upacara peringatan HUT-RI Ke-69.

Kamis, 15 Agustus 2013

Manusia terbodoh itu, "AKU".

     "Sorry ya, aku enggak suka sama kamu. Maaf, mungkin kamu salah mengartikan perhatian ku selama ini. Tapi, aku cuma nganggep kamu sebagai adik ku, enggak lebih.", terdengar pernyataan pahit menusuk lubuk hati.

     Mungkin aku memang tak pantas bersanding dengan mu. Dimata mu, aku hanya-lah perempuan berusia 14 tahun yang belum pantas mengenal apa itu cinta. Setelah kau berikan pernyataan jujur terasa pahit itu. Aku semakin berusaha mencoba bersikap dewasa. Mungkin memang benar, "Cinta tak harus memiliki dan cinta tak bisa di paksakan". Namun, apakah itu tetap berlaku saat aku mulai mengagumi-mu bahkan mencintai-mu?. Aku selalu mencoba untuk meraih segala imipian dengan segala kemampuan ku, dan hasilnya, cukup memuaskan. Tapi, apakah aku bisa menerapkan itu dalam dunia percintaan ku?, apakah aku bisa memikat hati mu dengan daya tarik yang aku miliki?. Perlu waktu untuk membuktikannya.

     Maaf, aku lupa kalau hubungan kita itu tak lebih sebatas teman dan terkadang kau menganggap ku seorang adik kecil mu. Dan setelah peristiwa pahit itu terjadi, aku yakin dan sangat yakin, kau akan kembali menganggap ku tak lebih dari sosok teman terbodoh dan tergila yang pernah kau kenal.

     Bagaimana bisa kau mencintai seorang teman yang telah lama saling meyakinkan? 
     Bagaimana bisa kau menyayanginya tanpa kau sadari itu akan menjauhkan mu darinya?

     Iya, aku memang bodoh. Bodoh menaruh hati pada sosok lelaki yang telah lama saling menyayangi, walau hanya sebatas adik-kakak atau bahkan teman.

     "Bodoh aku bodoh. Iya, aku bodoh!", hati kecil ku berkata.

     Aku lupa bahwa kau tak menaruh rasa sedikit-pun padaku. Dugaan hati ku selama ini benar adanya, aku hanya salah mengartikan rasa kepedulian-mu itu padaku. Salah mengartikan, sampai akhirnya, aku terperangkap dalam cinta tak bernyawa seperti ini.

     Tuhaaaaaaaaaan........ Bantu hamba mu yang tak berdaya menahan gejolak cinta dalam dada. Perasaan rindu akan kenangan yang berujung penantian, akan semakin membuat ku jatuh dalam keterpurukan. Jika kau izin-kan aku untuk memilih, akan ku pilih jalan dimana aku terbebas dari cinta tak bernyawa ini.

     ~ AKU MERINDUKAN-NYA, SANGAT MERINDUKAN-NYA ~    

Kamis, 01 Agustus 2013

Andai saja semua dapat terulang.

     "Aku mencintaimu, walau ku tahu itu mimpi bagiku."
     "I loved you, but you didn't love me. NO PROBLEM, I still waiting for you."

     Andai aku mampu tuk berkata jujur padamu. Andai aku dapat melihatmu jauh lebih dekat. Andai saja, saat itu aku tak memberitahu padanya, bahwa aku "MENGAGUMI MU". Aku pastikan kita kan jauh lebih dekat dan mampu tuk saling mengenal jauh lebih dalam.

     Ku akui, aku terlalu bodoh dan terlalu ceroboh dalam tindakku. Cukup ku mengetahui, waktu tak mampu ku rengkuh kembali. Semua telah berlalu dan luka-pun segera menghampiri, siap tuk menyerbu dan menerka semua ruang dalam bilik jantung ini.

     Kini kau jauh meninggalkanku, pergi meninggalkan percikan cinta yang siap menusuk kalbu dalam rindu. Pergi meninggalkan kenangan yang sulit tuk dilupakan. Gejolak rindu kian menjadi, membuat ku jatuh dalam keterpurukan dan takut tuk rasakan indahnya cinta remaja.

     Dalam hati, ku bertanya di tengah kerinduan yang menyerbu serta melenyapkan semua harapan dengan mengingat segala kegagalan yang telah membawa ku pada peristiwa pahit menyakitkan dan menyiksa batin ini.

     "Akankah ku mampu berlabuh pada dinding hati yang siap tuk kembali membangkitkan ku dengan segala cara yang akan mengiringi langkah ku?. Walau ku tahu, semua itu hanyalah teori belaka dalam kehidupan percintaan ku."

      Terbesit tanya di hatiku,
     "Yakinkah bahwa hidup ku akan bahagia, walau kau telah menghilang, entah sementara atau bahkan selamanya?."


                      ~ HANYALAH TUHAN YANG TAHU ~